IKHTIAR & TAWAKAL   Leave a comment

Di dalam kehidupan ini, ada empat kemungkinan yang dapat kita jumpai di dalam urusan berikhtiar, apapun bentuk ikhtiar yang kita dilakukan. Kemungkinan pertama, seringkali kita temui orang yang berusaha dan berhasil. Kemungkinan kedua, ada juga orang yang walaupun telah berusaha dengan sekuat tenaga, tetapi kemudian tujuannya tidak tercapai. Yang ketiga, walau pun agak jarang tetapi ada juga orang yang sebenarnya tidak berusaha, atau usaha yang dilakukannya itu minimal, tetapi juga berhasil. Yang terakhir, lebih sering kita jumpai orang yang tidak berusaha, dan tidak berhasil. Jadi, ada orang yang berusaha, berhasil; ada yang berusaha tetapi tidak berhasil; tidak berusaha, berhasil dan terakhir, tidak berusaha, tidak berhasil.

Keempat fakta ini menunjukkan kepada kita, bahwa kita tidak bisa dengan pasti mengetok palu, memastikan bahwa keberhasilan yang kita akan peroleh berbanding sejajar dengan usaha yang kita lakukan. Kalau hal ini kita yakini, maka kita cenderung tidak akan mau menerima kegagalan yang kita terima. Yang harus kita yakini adalah kita hanya berkewajiban berusaha, berusaha dengan segenap kemampuan kita untuk mencapai suatu tujuan. Kemudian setelah kita berusaha dengan maksimal, hasilnya kita serahkan kepada kehendak Ilahi.

Konsep yang harus kita tanamkan di dalam berusaha adalah la haula wa la quwwata illa billah, tiada daya dan kekuatan selain daya dan kekuatan milik Allah. Setelah berikhtiar, kita serahkan kepada Allah, bukan menyombongkan jerih-payah, upaya yang telah kita lakukan. Maka kalau konsep ini sudah tertanam di dalam jiwa kita, ketika berhasil kita tidak lantas bersorak, mengepalkan tinju tinggi-tinggi sambil berteriak, yes! Tidak lupa diri, tetapi justru segera mengingat Allah mengucap syukur memuji karunia-Nya. Sebaliknya, ketika gagal kita tidak lantas menekuk muka, putus asa menganggap kegagalan sebagai akhir segalanya. Tetapi kita lantas segera muhasabah, introspeksi diri mencari penyebab kegagalan untuk perbaikan di masa datang, sambil mengingat bahwa semua cobaan datang dari Allah, dan di balik kesulitan terdapat hikmah, kebaikan.

Yakinlah, bahwa walau pun gagal, usaha yang telah kita lakukan akan dinilai sebagai suatu kebaikan di sisi Allah. Sebuah hadis menjelaskan kepada kita, bahwa seandainya kita mempunyai pengetahuan yang sangat jelas bahwa esok akan datang hari kiamat, sedangkan di tangan kita terdapat sebutir biji kacang, kita dilarang untuk membuangnya. Tetapi kita disuruh untuk menanamnya walau pun kita tahu betul bahwa esok akan kiamat. Bukan hasil yang dilihat oleh Allah SWT, akan tetapi jerih payah kita menanam biji kacang itulah yang akan dicatat sebagai suatu kebaikan.

Sekali lagi, mari kita tanamkan konsep la haula wa la quwwata illa billah di dalam setiap bentuk usaha kita agar ketika berhasil kita tidak lantas sombong, lupa daratan, dan tidak terpuruk ketika gagal.

Wallahu a’lam bishowab.

FUNGSI SALAM DALAM ISLAM   Leave a comment

Salam mempunyai beberapa fungsi, diantaranya : 1. LIT TA’ABBUDI : Ialah salam yang dilakukan karena demikianlah dicontohkannya, kita tidak bisa bertanya mengapa demikian dan apa sebabnya. Yaitu salam diakhir shalat, baik itu Imam ataupun Ma’mum, munfarid ataupun berjama’ah, semuanya mengucapkan salam. 2. LIL ISTI’DZAN : Yaitu salam yang dilakukan ketika kita mau masuk rumah orang lain sekalipun belum bertemu dengan penghuni rumahnya, atau kemungkinan sedang tidak ada, kita tetap mengucapkan salam maksimal sampai tiga kali, hal ini berdasar perintah dalam Al-Qur’an

ياأيها الذين آمنوا لا تدخلوا بيوتا غير بيوتكم حتى تستأنسوا وتسلموا على أهلها ذلكم خير لكم لعلكم تذكرون  Artinya : “ Hai orang-orang yang beriman jangnlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya, yang demikian itu lebih baik bagimu agar kamu ( selalu ) ingat.Q.S. An-Nur : 27 3. LID DU’A : Ialah salam yang pada dasarnya untuk mendo’akan, yaitu salam kepada ahli qubur yang muslim, hal ini berdasarkan hadits di bawah ini

وعن سليمان بن بريدة عن أبيه قال, كان رسول الله ص يعلمهم إذا خرجوا إلى المقابر أن يقول السلام عليكم أهل الذيار من المؤمنين والمسلمين وإنا إن شاء الله تعالى بكم لاحقون نسأل الله لنا ولكم العافية. مسلم

Artinya : Dari Sulaiman bin Buraidah dari ayahnya Ia berkata, adalah Rasulullah saw. mengajar mereka jika keluar ke kuburan hendaklah mengucapkan ASSALAMU’ALAIKUM wahai penghuni tempat ini (kuburan) mereka yang mu’min dan muslim dan kami Insya Allah akan menyusul, kami memohon keselamatan kepada Allah untuk kami dan kamu sekalian. H.R. Muslim 4. LIT TAHIYYAT : Yaitu salam sebagai penghormatan terhadap sesama muslim, dan salam ini juga disebut salam LIQO, yaitu salam karena baru bertemu. Hal ini berdasarkan firman Allah Q.S. An-Nisa : 86

وإذا حييتم بتحية فحيوا بأحسن منها أو ردوها إن الله كان على كل شيء حسيبا.

Artinya : Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik atau balaslah ( dengan yang serupa ) Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu.Q.S. An-Nisa : 86 2. عن أبي هريرة رع قال, قال رسول الله ص : حق مسلم على المسلم ست ؛ إذا لقيته فسلم عليه……. الحديث – راه مسلم Artinya : Dari Abi Hurairoh Ia berkata, Rasulullah saw. telah bersabda : Haq muslim terhadap muslim ada enam : 1. Jika bertemu dengannya hendaklah memerikan salam ………. H.R. Muslim 5. LIL FIROQ : Ialah salam jika hendak berpisah, hal ini berdasrkan hadits di bawah ini عن أبي هريرة رع قال, قال رسول الله ص : إذا انتهى أحدكم إلى المجلس فليسلم فإذا أراد أن يقوم فليسلم فليست الأولى بأحق من الأخرة. أبو داود Artinya : Dari Abi Hurairoh r.a, Ia berkata, Rasulullah telah bersabda : Jika kamu sampai / datang di satu majlis, maka bersalamlah dan jika hendak meninggalkan juga bersalamlah, dan salam yang pertama ( ketika datang ) tidak berarti lebih utama daripada salam yang terakhir ( ketika akan meninggalkan). H.R. Muslim SALAM KETIKA MEMULAI PENGAJIAN ATAU CERAMAH Masih banyak para Muballigh / Da’i yang memulai ceramahnya dengan mengucapkan salam bahkan ada yang sampai tiga kali mengucapkan salam. Kalau melihat dasar hukumnya kira-kira apa yang dijadikan dalil / dasar oleh mereka untuk memulainya dengan salam. 1. Kalau salam itu merupakan salah satu keharusan sebagai Iftitah khutbah, berarti harus ada dalil yang khusus bahwa setiap ceramah harus dimulai dengan salam, atau ada dalil bahwa Nabi setiap memulai khutbahnya diawali dengan salam. Ternyata dalam hal ini tidak terdapat perintah yang khusus atau contoh dari Nabi bahwa beliau memulainya dengan salam, tetapi beliau memulainya dengan Tahmid. قال ابن القيم : كان ص يفتتح خطبه كلها بالحمد لله ولم يحفظ فى حديث واحد أنه كان يفتتح خطبتى العيد بالتكبير. Artinya : Menurut Ibn Qoyyim ; Adalah Nabi saw. memulai khutbah semuanya dengan HAMDALAH, dan tidak diriwayatkan dari Nabi satupun hadits bahwa beliau memulai dua khutbah ‘Ied dengan takbir. Dalam keterangan lain Ibn Qoyyim menyatakan : وأما قول كثير من الفقهاء إنه يفتتح خطبة الإستسقاء بالإستغفار وخطبة العيدين بالتكبير فليس منهم فيها سنة عن النبي ص ألبتة, والسنة تقضى خلافه وهو إفتتاح جميع الخطب بالحمد. Artinya : Adapun pendapat kebanyakan Ahli Fiqh, bahwa khutbah Isitsqo hendaklah dimulai dengan Istigfar dan hendaklah khutbah ‘Ied-aen dimulai dengan takbir, maka hal itu tidak terdapat sunnah dari Nabi sama sekali, justru yang sunnah itu berlainan dengan ketentuan tersebut yaitu memulai semua khutbah dengan hamdalah. 2. Kalau memulai ceramah dengan salam itu berdasarkan hadits إذا لقيته فسلم عليه ( jika kamu bertemu hendaklah salam ), maka tentu prakteknya mengucapkan salam itu harus pada saat mulai datang pada majlis pada saat LIQO ( bertemu ). Adapun jika Muballigh telah berada dimajlis bersama Mustami’bahkan telah menunggu dari sejak pengajian itu dibuka, maka tentu mengucapkan salam diawali ceramah itu tidak sesuai dengan petunjuk hadits: إذا لقيته فسلم عليه KESIMPULAN : 1. Fungsi salam itu ada lima : a. Karena TA’ABBUD, yaitu salam diakhir shalat. b. Sebagai ISTI’DZAn, meminta izin untuk memasuki rumah orang lain. c. Sebagai DO”A, yaitu salam yang dilakukan untuk ahli qubur yang muslim. d. Sebagai TAHIYYAT, yaitu penghormatan terhadap sesama muslim yang dilakukan pada setiap kali bertemu. e. Sebagai salam FIROQ, yaitu salam ketika mau berpisah. 1. Tidak terdapat dalil dari Qur’an dan Hadits yang menganjurkan membaca salam pada awal khutbah atau ceramah. 2. Jika Muballigh baru datang dan langsung menuju mimbar, maka boleh mengucapkan salam sebagai salam LIQO, yaitu pada saat mulai bertemu dengan mustami’. 3. Nabi selalu memulai khutbahnya dengan TAHMID, yaitu pujian dan sanjungan kepada Allah. 4. Tidak ada dalil yang sahih memulai khutbah ‘Ied dengan Takbir dan khutbah Istisqo dengan Istigfar. BEBERAPA BUKTI BAHWA KHUTBAH NABI TIDAK DIMULAI DENGAN SALAM 1. فأنصرف رسول الله وقد تجلت الشمس فخطب الناس وحمد الله بما هو أهله ثم قال ؛ أما بعد. البخاري 164:1 , 188:1 2. ثم قام رسول الله ص فى الناس فحمد الله واثنى عليه. ثم قال ؛ أما بعد : مابال رجال …. البخاري 20:2 3. فلما كان العشي قام فاختطب فأثنى على الله بما هو أهله ثم قال ؛ أما بعد؛ فإنما أهلك الذين من قبلكم. مسلم 48:2 4. فأقر بلال فأذن وأقام ثم صلى ثم خطب فقال : يأيها الناس اتقوا ربكم الذى خلقكم. مسلم 5. أئذن لى أيها الأمير أحدثك قولا قام به النبي ص الغد من يوم الفتح سمعته أذناي ووعاه قلبى وابصرته عيناي خين تكلم به, حمد الله واثنى عليه ثم قال : إن مكة حرمها الله ولم يحرمها الناس. البخاري 6. فلما انصرف رسول الله ص حمد الله واثنى عليه ثم قال : ما من شيئ كنت لم أراه إلا قد رأيته فى مقامى هذا. البخاري 47:1

PIAGAM MADINAH   1 comment

Mukaddimah

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Ini adalah piagam dari Muhammad, Rasulullah saw, di kalangan mukminin dan muslimin (yang berasal dari) Quraisy dan Yatsrib (Madinah), dan yang mengikuti mereka, menggabungkan diri dan berjuang bersama mereka.

Pasal 1. Sesungguhnya mereka satu ummat, lain dari (komunitas) manusia lain.

Pasal 2. Kaum Muhajirin (pendatang) dari Quraisy sesuai keadaan (kebiasaan) mereka, bahu membahu membayar diat di antara mereka dan mereka membayar tebusan tawanan dengan cara yang baik dan adil di antara kaum mukminin.

Pasal 3. Banu ;Awf, sesuai keadaan (kebiasaan) mereka, bahu-membahu membayar diat di antara mereka seperti semula, dan setiap suku membayar tebuan tawanan dengan baik dan adil di antara mukminin.

Pasal 4. Banu Sa;idah, sesuai keadaan (kebiasaan) mereka, bahu-membahu membayar diat di antara mereka (seperti) semula, dansetiap suku membayar tebusan tawanan dengan cara yang baik dan adil di antara mukminin.

Pasal 5. Banu al-Hars, sesuai keadaan (kebiasan) mereka, bahu-membahu membayar diat di antara mereka (seperti) semula, dansetiap suku membayar tebusan tawanan dengan cara yang baik dan adil di antara mukminin.

Pasal 6. Banu Jusyam, sesuai keadaan (kebiasaan) mereka, bahu-membahu membayar diat di antara mereka (seperti) semula, dan setiap suku membayar tebusan tawanan dengan cara yang baik dan adil di antara mukminin.

Pasal 7. Banu al-Najjar, sesuai keadaan (kebiasaan) mereka, bahu-membahu membayar diat di antara mereka (seperti) semula, dan setiap suku membayar tebusan tawanan dengan cara yang baik dan adil di antara mukminin.

Pasal 8. Banu Amr Ibnu Awf, sesuai keadaan (kebiasaan) mereka, bahu-membahu membayar diat di antara mereka (seperti) semula, dan setiap suku membayar tebusan tawanan dengan cara yang baik dan adil di antara mukminin.

Pasal 9. Banu al-Nabit, sesuai keadaan (kebiasaan) mereka, bahu-membahu membayar diat di antara mereka (seperti) semula, dan setiap suku membayar tebusan tawanan dengan cara yang baik dan adil di antara mukminin.

Pasal 10. Banu al-Aws, sesuai keadaan (kebiasaan) mereka, bahu-membahu membayar diat di antara mereka (seperti) semula, dan setiap suku membayar tebusan tawanan dengan cara yang baik dan adil di antara mukminin.

Pasal 11. Sesungguhnya mukminin tidak boleh membiarkan orang yang berat menanggung hutang di antara mereka, tetapi membantunya dengan baik dalam pembayaran tebusan dan diat.

Pasal 12. Seorang mukmin tidak dibolehkan membuat persekutuan dengan sekutu mukmin lainnya tanpa persetujuan daripadanya.

Pasal 13. Orang-orang mukmin yang taqwa harus menentang orang yang di antara mereka mencari dan menuntut sesuatu secara dzalim, jahat, melakukan permusuhan atau kerusakan di kalangan mukminin. Kekuatan mereka bersatu dalam menentangnya, sekali pun ia anak dari salah seorang di antara mereka.

Pasal 14. Seorang mukmin tidak boleh membunuh orang beriman lainnya lantaran (membunuh) orang kafir. Tidak boleh pula orang mukmin membantu orang kafir (untuk membunuh) orang beriman.

Pasal 15. Jaminan Allah satu. Jaminan (perlindungan) diberikan oleh mereka yang dekat. Sesungguhnya mukminin itu saling membantu, tidak tergantung pada golongan lain.

Pasal 16. Sesungguhnya orang Yahudi yang mengikuti kita berhak atas pertolongan dan santunan, sepanjang (mukminin) tidak terdzalimi dan ditentang (olehnya).

Pasal 17. Perdamaian mukminin adalah satu. Seorang mukmin tidak boleh membuat perdamaian tanpa ikut-serta mukmin lainnya di dalam suatu peperangan di jalan Allah, kecuali atas dasar kesamaan dan keadilan di antara mereka.

Pasal 18. Setiap pasukan yang berperang bersama kita harus bahu-membahu satu sama lain.

Pasal 19. Orang-orang mukmin itu membalas pembunuh mukmin lainnya dalam peperangan di jalan Allah. Orang-orang beriman dan bertaqwa ada pada petunjuk yang terbaik dan lurus.

Pasal 20. Orang musyrik (Yatsrib) dilarang melindungi harta dn jiwa orang (musyrik) Quraisy, dan tidak boleh campur-tangan melawan orang beriman.

Pasal 21. Barangsiapa yang membunuh orang beriman dan cukup bukti atas perbuatannya, harus dihukum bunuh, kecuali wali si terbunuh rela (menerima diat). Segenap orang beriman harus bersatu dalam menghukumnya.

Pasal 22. Tidak dibenarkan bagi orang mukmin yang mengakui piagam ini, percaya pada Allah dan Hari Akhir, untuk membantu pembunuh dan memberi bantuan atau menyedikan tempat tinggal bagi pelanggar itu, akan mendapat kutukan dan kemurkaan Allah di hari kiamat, dan tidak diterima daripadanya penyesalan dan tebusan.

Pasal 23. Apabila kamu berselisih tentang sesuatu, penyelesaiannya menurut (ketentuan) Allah ;azza wa jalla dan (keputusan) Muhammad saw.

Pasal 24. Kaum Yahudi memikul biaya bersama mukminin selama dalam peperangan.

Pasal 25. Kaum Yahudi dari Banu ;Awf adalah satu ummat dengan mukminin. Bagi kaum Yahudi agama mereka, dan bagi kaum muslimin agama mereka. Juga (kebebasan ini berlaku) bagi sekutu-sekutu dan diri mereka sendiri, kecuali bagi yang dzalim dan jahat. Hal demikian akan merusak diri dan keluarganya.

Pasal 26. Kaum Yahudi Banu al-Najjar diperlakukan sama seperti Yahudi Banu ;Awf.

Pasal 27. Kaum Yahudi Banu al-Hars diperlakukan sama seperti Yahudi Banu ;Awf.

Pasal 28. Kaum Yahudi Banu Sa;idah diperlakukan sama seperti Yahudi Banu ;Awf.

Pasal 29. Kaum Yahudi Banu Jusyam diperlakukan sama seperti Yahudi Banu ;Awf.

Pasal 30. Kaum Yahudi Banu al-Aws diperlakukan sama seperti Yahudi Banu ;Awf.

Pasal 31. Kaum Yahudi Banu Sa;labah diperlakukan sama seperti Yahudi Banu ;Awf, kecuali orang dzalim dan khianat. Hukumannya hanya menimpa diri dan keluarganya.

Pasal 32. Suku Jafnah dari Sa;labah (diperlakukan) sama seperti mereka (Banu Sa;labah).

Pasal 33. Banu Syutaybah (diperlakukan) sama seperti Yahudi Banu ;Awf. Sesungguhnya kebaikan (kesetiaan) itu lain dari kejahatan (khianat).

Pasal 34. Sekutu-sekutu Sa;labah (diperlakukan) sama seperti mereka (Banu Sa;labah).

Pasal 35. Kerabat Yahudi (di luar kota Madinah) sama seperti mereka (Yahudi).

Pasal 36. Tidak seorang pun dibenarkan (untuk berperang), kecuali seizin Muhammad saw. Ia tidak boleh dihalangi (menuntut pembalasan) luka (yang dibuat orang lain). Barangsiapa berbuat jahat (membunuh), maka balasan kejahatan itu akan menimpa diri dan keluarganya, kecuali jika ia teraniaya. Sesungguhnya Allah sangat membenarkan (ketentuan) ini.

Pasal 37. Bagi kaum Yahudi ada kewajiban biaya, dan bagi kaum muslimin ada kewajiban biaya. Mereka (Yahudi dan muslimin) bantu-membantu dalam menghadapi musuh Piagam ini. Mereka saling memberi saran dan nasihat. Memenuhi janji lawan dari khianat. Seseorang tidak menanggung hukuman akibat (kesalahan) sekutunya. Pembelaan diberikan kepada pihak yang teraniaya.

Pasal 38. Kaum Yahudi memikul biaya bersama mukminin selama dalam peperangan.

Pasal 39. Sesungguhnya Yatsrib itu ;haram; (suci) bagi warga Piagam ini.

Pasal 40. Orang yang mendapat jaminan (diperlakukan) seperti diri penjamin sepanjang tidak bertindak merugikan dan tidak khianat.

Pasal 41. Tidak boleh jaminan diberikan, kecuali seizin ahlinya.

Pasal 42. Bila terjadi suatu peristiwa atau perselisihan di antara pendukung Piagam ini, yang dikhawatirkan akan menimbulkan bahaya, diserahkan penyelesaiannya menurut (ketentuan) Allah ;azza wa jalla, dan (keputusan) Muhammad saw. Sesungguhnya Allah paling memelihara dan memandang baik isi Piagam ini.

Pasal 43. Sungguh tidak ada perlindungan bagi Quraisy (Makkah) dan juga bagi pendukung mereka.

Pasal 44. Mereka (pendukung Piagam) bahu-membahu dalam menghadapi penyerang kota Yatsrib.

Pasal 45. Apabila mereka (pendukung Piagam) diajak berdamai dan mereka (pihak lawan) memenuhi perdamaian serta melaksanakan perdamaian itu, maka perdamaian itu harus dipatuhi. Jika mereka diajak berdamai seperti itu, kaum mukminin wajib memenuhi ajakan dan melaksanakan perdamaian itu, kecuali terhadap orang yang menyerang agama. Setiap orang wajib melaksanakan (kewajiban) masing-masing sesuai tugasnya.

Pasal 46. Kaum Yahudi al-;Aws, sekutu dan diri mereka, memiliki hak dan kewajiban seperti kelompok lain pendukung Piagam ini, dengan perlakuan yang baik dan penuh dari semua pendukung Piagam ini. Sesungguhnya kebaikan (kesetiaan) itu berbeda dari kejahatan (pengkhianatan). Setiap orang bertanggung-jawab atas perbuatannya. Sesungguhnya Allah paling membenarkan dan memandang baik isi Piagam ini.

Pasal 47. Sesungguhnya Piagam ini tidak membela orang dzalim dan khianat. Orang yang keluar (bepergian), aman dan orang berada di Madinah aman, kecuali orang yang dzalim dan khianat. Allah adalah penjamin orang yang berbuat baik dan taqwa. Dan Muhammad Rasulullah saw.

(Disalin dari berbagai sumber)

JADILAH MANUSIA YANG TERBAIK   Leave a comment

Oleh : Iman Setiawan Latief

Sungguh beruntung bagi siapapun yang dikaruniai Allah kesempatan dan kemauan untuk mengamalkan segala peluang kebaikan yang diperlihatkan Allah kepadanya. Beruntung pula orang yang dititipi Allah dengan berbagai potensi kelebihan oleh-Nya, dan dikaruniakan pula kesanggupan memanfaatkannya untuk sebanyak-banyaknya umat manusia. Karena ternyata derajat kemuliaan seseorang dapat dilihat dari sejauhmana dirinya punya nilai manfaat bagi orang lain. Rasulullah SAW dalam hal ini bersabda, “Sebaik-baik manusia diantaramu adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain” (H.R. Bukhari).

Hadits ini mengatakan bahwa apabila ingin mengukur sejauhmana derajat kemuliaan akhlak kita, maka ukurlah sejauhmana nilai manfaat diri kita ! Manusia kehadirannya sangat ditunggu apabila sangat dirindukan, sangat bermanfaat, bahkan perilakunya membuat hati orang disekitarnya terpesona. Tanda-tanda yang nampak dari seorang tersebut, diantaranya dia seorang pemalu yang jarang mengganggu orang lain, sehingga orang lain merasa aman darinya. Perilaku kesehariannya lebih banyak kebaikannya. Ucapannya senantiasa terpelihara, ia hemat betul kata-katanya, sehingga lebih banyak berbuat daripada hanya berbicara. Sedikit kesalahannya, tidak suka mencampuri yang bukan urusannya, dan sangat nikmat kalau ia berbuat kebaikan. Hari-harinya tidak lepas dari menjaga silaturahmi, sikapnya penuh wibawa, penyabar, selalu berterima kasih, penyantun, lemah lembut, bisa menahan dan mengendalikan diri, serta penuh kasih sayang.

Sama sekali bukan kebiasaan bagi yang akhlaknya baik perilaku melaknat, memaki-maki, memfitnah, menggunjing, bersikap tergesa-gesa, dengki, bakhil, ataupun menghasut. Justru ia selalu berwajah cerah, ramah tamah, mencintai karena Allah, membenci karena Allah, dan marahnya pun karena Allah SWT, Subhanallah demikian indah hidupnya. Karenanya, siapapun di dekatnya pastilah akan tercuri hatinya. Kata-katanya akan senantiasa terngiang-ngiang. Keramahannya pun benar-benar menjadi penyejuk bagi hati yang sedang membara. Jikalau saja orang berakhlak mulia ini tidak ada, maka siapapun akan merasa kehilangan, akan terasa ada sesuatu yang kosong di rongga kalbu ini.

Sebaliknya apabila orang yang tidak diinginkan keberadaannya, karena malah dianggap menjadi musibah, sedangkan ketiadaannya justru disyukuri. Masya Allah ! tidak ada salahnya kita merenung sejenak, tanyakan pada diri ini apakah kita ini anak yang menguntungkan orang tua atau malah hanya jadi benalu saja? Masyarakat merasa mendapat manfaat tidak dengan kehadiran kita atau malah sebaliknya ? Kepada orang tua, hendaknya tanyakan pada diri masing-masing, apakah anak-anak kita sudah merasa bangga punya orang tua seperti kita? Saya ini seorang pejabat atau seorang penjahat ? Apakah aku ini pengusaha atau seorang pencuri ?

Nampaknya, saat bercermin seyogyanya tidak hanya memperhatikan fisik luar saja, tapi pandanglah akhlak dan perbuatan yang telah kita lakukan. Sayangnya, jarang orang berani jujur dengan tidak membohongi diri, seringnya malah merasa pandai padahal bodoh, merasa kaya padahal miskin, merasa terhormat padahal hina. Padahal untuk berakhlak baik kepada manusia, awalnya dengan berlaku jujur kepada diri sendiri.

Manusia tidak ada yang sempurna, semua pasti memiliki kekurangan. Ada yang diberikan kepintaran oleh Allah, tapi tidak memiliki cukup waktu, tenaga dan harta. Sebagiannya memiliki harta yang berlimpah, tetapi kurang memiliki pengetahuan, waktu dan tenaga yang cukup. Akan tetapi ada juga yang miskin tapi pintar, hanya tidak memiliki harta yang cukup, dan seterusnya. Jadilah manusia yang bermanfaat bagi orang lain dengan kelebihan yang kita miliki. Kalau kita memiliki kpengetahuan lebih, ajarkanlah kepada orang lain. Kalau kita memiliki harta yang berlebih, tebarkanlah kasih saying kita dengan zakat, infaq dan shadaqah. Demikian pula kalau kita memiliki kelebihan tenaga, waktu dan kelebihan lainnya yang kita miliki. Sehingga kita bias menjadi bermanfaat bagi manusia lainnya, kehadiran kita memberikan kesejukan dan sangat ditunggu-tunggu oleh orang lain.

Begitu pula terhadap lingkungan, kita harus punya akhlak tersendiri. Seperti pada binatang, kalau tidak perlu tidak usah kita menyakitinya. Kadang ketika duduk di taman yang hijau, entah sadar atau tidak kita cabuti rumput atau daun-daunan yang ada tanpa alasan yang jelas. Padahal rumput, daun, dan tumbuh-tumbuhan yang ada di alam semesta ini semuanya sedang bertasbih kepada-Nya. Yang paling baik adalah jangan sampai ada makhluk apapun di lingkungan kita yang tersakiti. Termasuk ketika menyiram atau memetik bunga, tanaman, atau tumbuhan lainnya, hendaklah dengan hati-hati, karena tanaman juga mengerti apa yang dilakukan kita kepadanya.

Marilah kita gembleng  diri kita, sehingga kita bisa berguna bagi orang lain. Betapa indah pribadi yang penuh pancaran manfaat, ia bagai cahaya matahari yang menyinari kegelapan, menjadikannya tumbuh benih, bermekarannya tunas-tunas, merekahnya bunga di taman, hingga menggerakkan roda kehidupan. Demikianlah, cahaya pribadi kita hendaknya mampu menyemangati siapapun, bukan hanya diri kita, tetapi juga orang lain dalam berbuat kebaikan dengan limpahan karunia Allah SWT. Ingatlah, hidup hanya sekali dan sebentar saja, sudah sepantasnya kita senantiasa memaksimalkan nilai manfaat diri ini, yakni menjadi seperti yang disabdakan Nabi SAW, sebagai khairunnas. Sebaik-baiknya manusia! Wallaahu ‘alam bishshawab.

BERKAH   Leave a comment

Oleh : Iman Setiawan Latief

Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi. Tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (Q.S. Al-A’raaf : 96) Banyak sekali orang yang memiliki harta, rumah yang besar, istri yang cantik atau suami yang tampan serta ilmu yang luas, tetapi tidak mengangkat derajat pemiliknya. Malah menghinakannya, bukan kebahagiaan yang diperoleh melainkan masalah dan malapetaka. Apa sebabnya? sebenarnya penyebabnya sederhana sekali, yakni bahwa semua itu tidak berkah. Kita tidak boleh cukup senang hanya dengan memiliki sesuatu. Tetapi yang harus lebih kita senangi, adalah keberkahan atas segala sesuatu yang kita miliki. Jadi bukan takut tidak memiliki sesuatu tetapi harus lebih takut sesuatu yang sudah dimiliki tidak membawa berkah. Kita harus sangat takut dengan hidup yang tidak berkah, yaitu yang tidak bermanfat bagi dunia juga tidak bermanfaat bagi akhirat. Mulailah berhati-hati dengan harta yang kita miliki. Bagaimana supaya harta menjadi berkah? Seperti halnya piring yang hanya bisa enak digunakan untuk makan kalau terlebih dahulu gelas itu kita bersihkan. Demikian pula harta dan diri kita yang harus kita bersihkan, agar enak dipakainya. Dan jangan sekali-kali kita mencoba untuk tidak jujur. Jujur atau tidak jujur tetap Allah yang memberi. Rizki penjahat datang dari Allah, rizki orang jujur juga datang dari Allah. Bedanya, rizki yang diberikan kepada penjahat tadi haram, tidak berkah, sedangkah yang diberikan kepada orang jujur adalah rizki yang berkah. Sebab sebenarnya meskipun penjahat, kalau Allah tidak memberi, tidak pernah dia dapatkan hasilnya. Banyak pencuri yang gagal, koruptor yang gagal. Semua itu karena kehendak Allah. Setelah itu, hati-hati pula jangan sampai ada hak-hak orang lain yang terampas atau belum tertunaikan, apalagi hak ummat. Na’udzubillahi min dzalik. Alkisah, Umar bin Abdul Aziz, ketika beliau sedang mengerjakan tugas negara malam hari di rumahnya, tiba-tiba anaknya mengetuk pintu kamar. Kemudian beliau membuka pintu dan lampu di kamar tersebut dimatikannya. Si anak lalu bertanya, “Kenapa lampu engkau matikan?” lalu beliau menjawab, “Karena minyak pada lampu ini milik negara. Tidak layak kita membicarakan urusan keluarga dengan menggunakan fasilitas negara”, begitulah Umar, sangat hati-hatinya karena mengharapkan hidupnya mendapat ridha dan berkah dari Allah swt. Sangat indah apabila para pemimpin dan rakyatnya di negeri ini mengamalkan hal yang dilakukan oleh khalifah tadi. Tidak akan ada korupsi ! Tidak akan ada manipulasi ! Tidak akan ada kolusi dan juga nepotisme ! Rakyat akan mendapatkan kesejahteraan, karena para pemimpin memikirkan rakyatnya, bukan hanya memikirkan kepentingan diri sendiri dan kelompoknya. Dari cerita yang dikisahkan di atas mengandung berbagai hikmah yang dapat kita teladani. Menggunakan jabatan dan wewenang yang akan membawa berkah tiada lain adalah mengesampingkan kepentingan dan kesenangan pribadi di atas hak dan kepentingan Allah. Harta kekayaan yang melimpah yang kita kuasai, yang membawa berkah, tiada lain kecuali harta yang bersih yang tertunaikan kewajiban-kewajibannya baik hak orang lain. Betapa mengerikan apabila kita mengingat, bahwa sebetulnya negeri ini telah Allah berikan keberkahan-Nya. Akan tetapi karena kita mendustakan dan tidak mengerjakann apa yang Allah perintahkan serta banyak melanggar larangan-Nya. Maka Allah cabut keberkahan tersebut, digantikan dengan musibah, malapetaka, tragedi dan bencana. Sudah sangat sering kita mengalami hal tersebut, tetapi bukannya tersadar, malah semakin terlena. Harus berapa kali lagi banjir, gempa, dan bencana yang kita alami, hingga kita bisa sadar ! Oleh karena itu, selayaknyalah kita sadar, bahwa kita telah banyak melanggar aturan-Nya dan kembali kepada ajaran Hakiki, yaitu ajaran Islam yang dibawa oleh Rasulullah SAW. Jadikanlah momentum Ramadhan ini sebagai titik balik bagi kita semua. Sehingga keberkahan yang pernah Allah turunkan kepada rakyat dan negeri ini, akan kembali Allah berikan kepada kita semua. Amien. Wallahu a’lam bishshawab.

Coba hitung titik hitamnya   Leave a comment

PROFESIONALISME MENURUT ISLAM   Leave a comment

Segala puji bagi Allah SWT karena nikmat-Nya kita bisa diberi kesempatan untuk beribadah kpd Nya, dan semoga kita selalu diberi keberkahan oleh Allah swt dalam kehidupan kita sehari-hari. Islam mensyariatkan agar umatnya selalu bekerja di setiap waktu, bertebaran di muka bumi untuk mencari karunia dan rezeki yang telah disiapkan-Nya. Allah berfirman dalam dalam surat Al Mulk : 15 • “ Dialah yang menjadikan bumi ini mudah bagimu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rizki-Nya. Dan hanya kepada-Nyalah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.” Dalam ayat tersebut Allah memerintahkan kepada mahluknya untuk mencari rejeki, Karena sesungguhnya Allah telah memudahkan bumi ini bagi manusia untuk mencari sumber-sumber kehidupan. Sungguh amat besar kesalahan seseorang jika mempersepsikan rejeki dengan hanya bertawakal tanpa ada usaha untuk mendapatkannya dengan menunggu-nunggu datangnya keajaiban dari langit. Pasrah pada Allah tidak berarti meninggalkan amal berupa bekerja. Seperti yang pernah rasul katakan : Semaikanlah benih, kemudian mohonkanlah buah dari Rabbmu.” Allah memang telah berjanji akan memberikan rizki kepada semua makhluq-Nya. Akan tetapi janji ini tidak dengan “cek kosong”, seseorang akan mendapatkan rizki kalau ia mau berusaha, berjalan dan bertebaran di penjuru-penjuru bumi. Karena Allah menciptakan bumi dan seisinya untuk kemakmuran manusia. Siapa yang mau berusaha dan bekerja ialah yang akan mendapat rizki dan rahmat dari Allah. Di ayat lain Allah berfirman : “ Apabila telah ditunaikan sholat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung.” (QS. Al-Jum’ah : 10) Jadi niatkanlah bekerja itu hanya untuk mencari ridha Allah semata, dengan selalu mengingat-ingat Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung. Subhanallah, Allah pemilik kekayaan yang ada di bumi dan langit ini mintalah maka Allah akan mengabulkan permintaanmu. Bekerjalah sesungguhnya Allah, rasul dan umat muslim melihat hasil .pekerjaanmu. • Rasulullah bersabda : “ Pekerjaan terbaik adalah usahanya seseorang dengan tangannya sendiri dan semua jual-beli itu baik.” (HR. Ahmad, Baihaqi dll) Kita telah mengatahui bagaimana kekasih-kekasih Allah rasul, nabi, sahabat para ulama. Bekerja keras dengan tangannya sendiri. Kita melihat Rasul menggembala kambing, nabi daud bekerja sebagai pandai besi, sahabat Abdurrahman Bin Auf berdagang di pasar. Dan tidak sedikit ulama-ulama besar kita menjadi kuli panggul di pasar. Apakah kita tidak malu jika dibandingkan dengan mereka yang jauh-jauh lebih mulia lebih luas ilmunya jika kita tidak memanfaatkan waktu yang kita miliki untuk bekerja. Apakah kita tidak malu kepada burung-burung yang berterbangan di waktu pagi untuk mencari makanan. Dan pulang pada sore harinya dengan perut kenyang. Seperti rasul sampaikan : • “ Burung berangkat pagi hari dengan perut kosong dan kembali sore hari dengan perut penuh makanan.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah) Islam mensyariahkan kita untuk Menjaga Amanah, Disiplin serta Profesional dalam Bekerja Seorang yang dapat menjaga amanah, disiplin dan profesional dalam bekerja akan memberikan kontribusi yang signifikan. Untuk itulah As-Syahid Hasan Al-Banna mengungkapkan hal ini dalam kewajiban Al-Akh pada no. 17 dan 18. 1. Menjaga Amanah Allah telah mewajibkan amanah dalam Al-Quran : “sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya….” (QS. An-Nisaa’ : 58).[1]Menjaga dan menepati amanah adalah kewajiban syariat. Terlebih lagi amanah yang diberikan adalah yang berhubungan dengan pekerjaan. Yang dimaksud dengan amanah adalah mengembalikan hak apa saja kepada pemiliknya, tidak mengambil sesuatu melebihi haknya dan tidak megurangi hak orang lain. Orang yang tidak amanah dalam bekerja menurut Rasul tergolong kedalam orang yang munafik (dalam Hadits sahihaini) b) Profesionalisme dalam Kerja Allah berfirman, “tiap-tiap orang berbuat menurut keadaanya (keahliannya) masing-masing. Maka Tuhanmu lebih mngetahui siapa yang lebih benar (profesional) jalannya.”(QS. Al-Isra’ : 84). Sejarah Islam telah membuktikan bahwa sahabat-sahabat Rasulilah berhasil dalam berdakwah dan bekerja tidak lepas pula dari keberjasilannya dalam bekerja. 9 dari 10 dari generasi pertama adalah para saudagar kaya. Profesionalitas yang ditunjukan oleh para saudagar Islam telah menjadi bukti bahwa engan profesional kita akan sukses menggapai cita-cita yang kita inginkan. c). Disiplin Disiplin adalah kata kunci ketiga dalam keberhasilan sebuah kerja. Tanpa kedisiplinan tidak mungkin sebuah pekerjaan akan seleai dengan baik justru jika tidak disiplin maka amanah yang kita jalankan akan berhenti di tengah jalan. Kasus yang nyata adalah kurang disiplinnya sahabat saat perang Uhud, sehingga kekalahan justru melanda kaum muslimin. Padahal selama ini pasukan muslimin selalu menang dalam setiap pertempuran. Disiplin akan membuat hidup seseorang bermakna dan berguna. Hendaklah kita dalam melakukan pekerjaan diniatkan untuk Allah SWT, jangan terlalu memperhatikan hasil, karena hasil itu mutlak kekuasaan Allah. Berusahalah dan senantiasa mengisi waktu dengan hal-hal posititif dan bermanfaat. Bukan bekerja keras karena belum tentu kerja keras itu menghasilkan hasil maksimal tetapi bekerjalah secara cerdas sesuai dengan kemampuan kita masing-masing. Dari Allah lah kebaikan dan hikmah. Dari saya pribadi khilaf dan kekurangan dalam taujih ini. Allahu Allam Bishowab Wassalamu ‘alaikum

%d bloggers like this: