Setitik Harapan Menjelang Muktamar XIV Persatuan Islam “DARI PERSIS UNTUKMU INDONESIA”   1 comment

Oleh : Iman Setiawan Latief

Perjalanan panjang sebuah organisasi sejak awal berdirinya hingga keberadaannya kini, tidak terlepas dari dinamika sosio kultural dan politik yang berkembang di masyarakat serta organisasi itu sendiri. Demikian pula yang terjadi pada Organisasi Persatuan Islam sejak berdirinya pada tanggal 12 September 1923 di Bandung, mereka dihadapkan pada tantangan berat untuk menyebarkan ide-ide pemikirannya, baik dalam masalah agama maupun masalah yang berkaitan dengan kenegaraan dan kebangsaan Indonesia. Persis berorientasi pada pendidikan dan dakwah. Akan tetapi Persis juga tidak terlepas dari pergulatan pemikiran dan perjuangan untuk memerdekakan bangsa Indonesia pada waktu itu. Para pimpinan dan anggota Persis masing-masing bergerak menentang penjajah dan menerjunkan diri dalam perjuangan fisik dan pergolakan kemerdekaan. Pada periode awal, A.Hassan sebagai penggerak Persis, memiliki sosok ulama yang kuat dan kharismatik. Ketika sekolah-sekolah milik pemerintah Hindia Belanda kurang memberikan pelajaran agama Islam, A. Hassan mengkritik dengan keras. Beliaupun adalah orang yang memberikan pencerahan tentang Islam, nasionalisme dan kebangsaan kepada Ir. Soekarno (Presiden pertama RI). Diantara keduanya sering terjadi dialog berbagai masalah. Soekarno yang tadinya kurang memahami Islam, sejak bergaul dengan A. Hassan, sedikit demi sedikit mulai terbuka terhadap Islam. Bahkan A. Hassan dianggap sebagai gurunya dalam hal agama. Terlebih lagi ketika Soekarno menjalani hukuman pembuangan oleh pemerintah kolonial Belanda di Endeh, Flores. Hal ini bisa kita lihat dalam buku karangan Soekarno “Di bawah Bendera Revolusi” dalam satu bab khusus Surat-Surat Islam dari Endeh; Dari Ir. Soekarno Kepada Tuan A. Hassan, Guru “Persatuan Islam”. Surat-surat yang dikirimkan oleh Bung Karno kepada A. Hassan dapat menjadi saksi begitu eratnya Soekarno dengan A. Hassan. Memang terjadi polemik tentang Islam dan faham kebangsaan, diantara keduanya sering perbedaan. Keduanya saling melengkapi dengan argumentasi masing-masing, terutama dalam hal faham kebangsaan, nasionalime dan ke-Indonesia-an. Akan tetapi hubungan perkawanan tidak pernah putus. Hal ini terbukti ketika Bung Karno ditahan di Sukamiskin pun, A. Hassan rajin menjenguknya dan tetap berdiskusi dalam banyak hal. Disinilah peran pertama kader Persis, A. Hassan dalam sumbangannya berkaitan dengan kenegaraan dan kebangsaan, yang dimasukkan melalui pemikiran Presiden Pertama RI. Seorang kader Persis yang dibina langsung oleh A. Hassan, adalah Moh. Natsir yang pernah menjabat jadi Perdana Menteri Indonesia pada tahun 1950. Ketika muda, Natsir banyak mengikuti pengajian dan diskusi yang diselenggarakan oleh Persis di bawah bimbingan A. Hassan. Ketika menjadi anggota Persis, Natsir berinisiatif untuk mendirikan berbagai lembaga pendidikan, yaitu Pendidikan Islam (Pendis) dan Pesantren Persatuan Islam. Natsir terlibat pula dalam organisasi Jong Islamieten Bond (JIB) Cabang Bandung (1928-1932). Pergerakan, pemikiran dan perjuangannya banyak berkaitan dengan ketatanegaraan, kebangsaan dan ke-Indonesia-an. Tulisan-tulisan Natsir yang tajam menghantam pemerintah kolonial Belanda dan Jepang yang dengan kejam menjajah bangsanya, Indonesia. Dalam berbagai tulisannya, Islam tidak semata-mata suatu agama, tetapi juga suatu pandangan hidup yang meliputi politik, ekonomi, sosial dan kebudayaan. Baginya, Islam adalah sumber perjuangan, sumber penentangan terhadap segala bentuk penjajahan, eksploitasi manusia atas manusia, sumber pemberantasan kebodohan, kemelaratan dan kemiskinan. Islam tidak memisahkan antara keagamaan dan kenegaraan. Selain itu, beliau pun aktif di bidang politik. Natsir berturut-turut menjabat sebgai Ketua DPP Masyumi berturut-turut sejak 1951 hingga 1956.Beliau mengupayakan penegakan cara hidup Islam melalui politik, dengan berbagai bentuk gagasan tentang hubungan Negara dengan Islam, nasionalisme, bentuk pemerintahan dan sebagainya. Jabatan yang pernah diembannya adalah sebagai Menteri Penerangan pada Kabinet Syahrir dan Hatta, dan pada akhirnya memangku jabatan Perdana Menteri RI. Selain itu, warisan monumental kader Persis, Natsir, terhadap NKRI adalah : Pertama, Mosi Integral, yaitu mosi yang diterima secara aklamasi pada siding RIS, Indonesia tidak lagi menjadi Negara yang tercabik-cabik menjadi 17 negara bagian. RIS kembali menjadi Republik Indonesia. Natsir mengembalikan mandat sebagai pemimpin Indonesia kepada Presiden RI, Soekarno. Kedua, Mencegah Negara sekuler dengan memperjuangkan pelajaran agama sebagai mata pelajaran pokok di sekolah. Ketiga, sumbangan pemikiran tentang kenegaraan dan kebangsaan melalui perwakilannya di sidang-sidang BPUPKI dan PPKI. Sebagai embrio terbentuknya NKRI. Kemudian tampil M. Isa Anshari sebagai pucuk pimpinan Persis tahun 1940. Ia terkenal sebagai orator, baik sebagai khatib maupun di lapangan terbuka. Kiprahnya di politik mengikuti jejak M Natsir. Beliau melakukan serangan terhadap PKI yang pada waktu sedang dalam masa jayanya, melalui tulisan maupun ceramahnya. Dalam tulisannya “Bahaya Merah Indonesia”, Isa mengecam komunisme karena bertentangan dengan Islam dan Nasionalisme Indonesia. Selain itu, beliau pun bersama beberapa tokoh mendirikan Front Anti Komunis. Bahkan dalam pidato-pidatonya, dengan berapi-api dia berkata : “Saudara-saudara sekalian, musuh utama kita tiada lain dan tiada bukan adalah PKI”. Pasca kemerdekaan pelanjutnya, E. Abdurrahman, seorang ulama yang tawadlu dan berilmu tinggi memimpin Persis, beliau lebih memfokuskan pada urusan internal organisasi, dengan pembinaan pada anggota dan peningkatan kualitas. Setelah itu tampil A. Latief Muchtar, yang mengeyam pendidikan bukan hanya di pesantren, tetapi juga di sekolah umum. Serta berkesempatan untuk melanjutkan studinya di luar negeri. Pada masa kepemimpinannya, beliau ikut meramu konsep ekonomi dan perbankan syariah yang sekarang menjadi rujukan. Selain itu, Persis mulai membuat Perguruan Tinggi untuk mencetak kader-kader yang lebih handal. Beberapa masalah yang berkaitan dengan keummatan di Indonesia, sering direspon secara cepat. Beliau ikut menyumbangkan gagasan dan idenya kepada pemerintah melalui berbagai media. Kiprahnya di dunia internasional, untuk mengenalkan Islam di Indonesia pun dilakukan, melalui OKI dll. Hal ini juga terus dilakukan oleh generasi pelanjutnya, yaitu Shiddiq Aminullah. Tidak terasa waktu berlalu, 87 tahun Persis sudah berdiri, melebihi usia NKRI itu sendiri. Persis telah memberikan kontribusi terhadap bangsa dan Negara Indonesia. Sejak Negara Indonesia belum lahir sampai sekarang. Kini Persis memiliki tantangan lebih berat, dimana masyarakat Indonesia sedang berhadapan dengan krisis yang berkepanjangan. Mulai krisis ekonomi yang pada akhirnya juga merambah pada krisis akhlak dan mental, krisis kepercayaan masyarakat yang rendah terhadap pemerintahnya, krisis jati diri bangsa, krisis kepemimpinan dan berbagai krisis lainnya. Ditambah dengan akulturasi peradaban dunia global yang semakin sulit untuk dibendung. Indonesia kini sedang membutuhkan figure yang bisa menjadi anutan. Persis ditantang untuk bisa mengisi kemerdekaan ini dengan berbagai gagasan, dan pemikiran cemerlang yang dapat membawa pencerahan. Serta melahirkan kader-kader anak bangsa yang cerdas dan bertanggung jawab, seperti para pendahulunya. Muktamar XIV Persis pada akhir September tahun ini, selayaknya juga menjadi setitik harapan bagi bangsa Indonesia, menuju ke arah yang lebih baik lagi. Sehingga slogan ‘Islam adalah rahmatan lil ‘alamien’ bisa menjadi kenyataan juga bagi bangsa dan negara Indonesia. Semoga.

One response to “Setitik Harapan Menjelang Muktamar XIV Persatuan Islam “DARI PERSIS UNTUKMU INDONESIA”

Subscribe to comments with RSS.

  1. amien

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: